Senin, 01 September 2014

Cerita Wafa si gadis mungil dan cantik ini sangat menarik untuk coba kita ulas, ceritanya yang memberikan motivasi serta menambah kekuatan kaum islam mampu membuat iman kita bertambah dan memunculkan rasa malu akan dosa-dosa yang kita perbuat.  Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini. Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami.
Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya.
Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas kegigihan Wafa.
Di kesempatan lain, Wafa ditanya oleh beberapa temannya. “Why do you wear that thing on your head?” Dengan percaya diri sebagai seorang muslim, dia menjawab, “Because I’m muslim,” Sang teman rupanya masih penasaran dan bertanya lagi, “But what you’re wearing that for?” Kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi, Wafa menjawab,”Well, because I’m muslim girl and all muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.” Bisa kita bayangkan betapa takjubnya teman-teman Wafa ketika mendengar jawaban ini.

 Ilustrasi. (lovelydeen.tumblr.com / Yesjie) 

Entah bagaimana caranya gadis kecil ini memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai seorang muslim. Biasanya anak seusianya sangat takut dianggap berbeda dari teman-temannya. Akan tetapi tidak untuk Wafa. Dia sangat percaya diri dan bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Tempat yang asing bagi dirinya pun semakin menempanya untuk tetap bangga sebagai seorang muslim. Kegigihan Wafa ini rupanya juga diperhatikan oleh guru-gurunya. Dia pun terpilih sebagai student of the week di minggu pertama dia masuk ke sekolah tersebut.
Kisah tentang Wafa yang dikutip dari buku Character Building, karangan Yudha Kurniawan SP dan Ir Tri Puji Hindarsih tersebut sungguh menginspirasi kita bahwa identitas sebagai seorang muslim adalah suatu kebanggaan. Di negeri yang mayoritas non muslim, Wafa mampu menunjukkan kebanggan tersebut. Sungguh ironis jika di negeri yang mayoritas muslim ini, kita justru malu menunjukkan identitas diri kita sebagai seorang muslim. Wafa juga memberi pelajaran pada kita bahwa usia yang masih dini bukanlah halangan untuk menanamkan rasa bangga sebagai seorang muslim kepada anak. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Antara lain:
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Sejak awal, kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar pada agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri. “Isyhadu bi anna muslimun. Saksikan bahwa aku adalah seorang muslim!”
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitas sebagai seorang muslim, baik yang bersifat fisik, mental, maupun cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam. Bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, melainkan untuk menemukan apa yang sudah dilakukan generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah mereka untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi berpapasan dengan orang non muslim. Kita tidak bersikap arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita sehingga tidak menyingkir karena gemetar.
Semoga kita senantiasa istiqamah dan bangga dengan identitas sebagai seorang muslim. Seperti halnya Wafa dalam kisah di atas. Kebanggaannya sebagai seorang muslim bak sebuah mahkota yang bukan saja meningkatkan derajat di antara kerumunan orang lain, melainkan juga memancarkan cahaya yang membuat potensi dan kemampuannya semakin terlihat. mudah-mudahan tulisan ini mampu memberikan inspirasi kepada kita sebagai orang muslim agar menumbuhkan rasa malu akan dosa-dosa yang akan kita lakukan, sehingga kita menghindari dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Posted by Unknown On 10.58 No comments READ FULL POST
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Sahabat,
Terkadang kita masih belum sadar bahwa Allah swt memantau dan Maha Mengetahui keadaan kita. Sementara orang-orang shalih dahulu, adalah orang-orang yang memiliki rasa malu yang tinggi kepada Allah swt. Tingkat rasa malu mereka kepada Alah swt, sampai dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan. Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Abbas ra ditanya tentang firman Allah swt, surat Hud ayat 5, yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya  (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.”
Ibnu Abbas mengomentari dengan mengatakan, “Dahulu orang-orang yang memiliki rasa malu menyendiri dan menjauh dari keadaan berada langsung di bawah langit, dan mereka tidak mau berhubungan badan dengan istri-istri mereka. Lalu turunlah ayat itu atas mereka.” Abu Bakar shiddiq mengatakan, “Malulah kalian kepada Allah, sungguh aku pergi membuang hajat lalu aku berlindung dengan bajuku karena malu dengan Rabbku.. “ Bahkan Abu Musa mengatakan, bila ia mandi di sebuah rumah yang gelap, ia tidak berani berdiri karena malu kepada Allah swt.”
Karena rasa malu itu pula, Aisyah ra tidak masuk ke lokasi pemakaman Rasulullah saw kecuali dengan aurat tertutup rapat. “Dahulu aku sering mendatangi makam Rasulullah saw dan makam ayahku (Abu Bakar Shiddiq ra) dan aku mungkin melepas sebagian kainku dengan mengatakan bahwa itu adalah makam suamiku dan ayahku. Tapi ketika Umar ra juga dimakamkan di lokasi pemakaman itu, aku tidak datang ke sana kecuali dalam kondisi pakaianku tertutup rapat karena malu dengan Umar ra.” (HR. Hakim)
Rasa malu sangat penting pada setiap mukmin. Melalui hadits disebut, Rasulullah mengingatkan kita untuk senantiasa menumbuhkan dan menjaga rasa malu agar terus hidup dalam diri kita. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita akan lebih berhati-hati dalam bertingkah dan berprilaku. Dalam riwayat lain beliau juga mengisyaratkan kepada umatnya, bahwa bila rasa malu telah hilang dalam hati seseorang, maka dia telah terjerumus menjadi manusia yang hilang akalnya, sehingga berbuat sesuka hatinya tanpa mengindahkan lagi aturan Allah maupun kehormatan dirinya.

Rasulullah bersabda,
اِسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَسْتَحْيِ وَالحَمْدُ لِلّهِ قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ، وَلكِنْ الاِسْتِحْيَاءُ مِنَ اللهِ حَقُّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَأْسَ وَمَا وَعَى،  وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى،  وَلِتَذْكُرَ المَوْتَ وَالْبَلَى وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذلِكَ اِسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقُّ الحَيَاءِ
 “Malulah kepada Allâh dengan malu yang sebenar-benarnya.” Kami berkata, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu.” Beliau bersabda, “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi malu kepada Allâh dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allâh.” (HR Tirmidzi).


Pic oleh Achmad Dahlan

Malu, menurut Amru Khalid berarti terkendalinya jiwa, yakni ia tidak dapat melakukan perbuatan tercela atau sesuatu yang buruk. Jadi, seorang pemalu tidak bisa melihat dirinya hina di hadapan Allah, di hadapan manusia, atau di hadapan dirinya sendiri. Sedangkan Imam Al-Nawawi mengatakan bahwa malu merupakan akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang buruk dan mencegahnya dari kelalaian (meremehkan) dalam memenuhi hak para pemiliknya.

Dalam Islam, rasa malu termasuk dalam kategori akhlaq terpuji. Karena itulah Rasulullah mengatakan, “Seseorang tidak akan mencuri bila ia beriman, tidak akan berzina bila ia beriman.” Seorang anak tidak punya rasa malu berkata-kata kasar dan tidak sopan kepada orang tuanya. Seorang bapak yang semestinya menjadi teladan, tidak malu mempertontonkan pertengkaran besar di hadapan anaknya. Kasus seorang ayah memperkosa anaknya, anak membunuh orang tuannya, pelajar tidak malu mencontek untuk meningkatkan nilai ujiannya atau polisi yang mau disogok, adalah karena hilangnya rasa malu. Perempuan dengan bangganya mempertontonkan auratnya dihadapan publik juga akibat telah hilangnya rasa malu. Seorang hakim yang sepatutnya menegakkan keadilan, tidak punya rasa malu lagi menerima titipan uang dari terdakwa untuk menghapus dakwaan atau mengurangi kadar hukumannya di pengadilan, seorang anggota dewan yang seharusnya memikirkan dan menyuarakan aspirasi rakyat ternyata dengan tanpa rasa malu malah sibuk untuk memikirkan kepentingan pribadi dan memenuhi kebutuhan dan kepuasan hawa nafsunya yang tidak berujung, serta masih banyak lagi sederetan peristiwa  yang serupa.

Bila merujuk pengertian di atas, dapat dipahami bahwa malu adalah perangai yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalanginya dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain. Dengan demikian, bila seseorang memiliki rasa malu, maka sungguh hatinya dalam kondisi hidup menyala, sehingga matanya terbuka untuk melihat mana yang hitam dan mana yang putih.Manusia sebagai makhluk Allâh yang paling sempurna, selain memiliki bentuk fisik yang baik, ia pun dianugerahi Allah kemampuan berpikir melalui akal. Dengan modal akal ini, manusia dapat mempertahankan predikat kemuliaan dan kesucian fitrahnya. Tanpa memanfaatkan akal yang sehat, manusia akan terjerembab ke jurang kehinaan.
Oleh karenanya, beruntunglah orang yang punya rasamalu. Ali bin Abi Thalib, berkata, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”
Posted by Unknown On 09.57 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Kategori

Arsip

About

Twitter Timeline